Friday, July 5, 2013

TEORI KEBAKARAN

Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai kebakaran diantaranya adalah:

Teori segitiga api (Fire Triangle)
Menurut teori ini, kebakaran terjadi karena adanya 3 faktor yang menjadi unsur api yaitu :
  • Bahan bakar (fuel)
  • Sumber panas (heat)
  • Oksigen
Kebakaran dapat terjadi jika ketiga unsur api tersebut saling bereaksi satu dengan yang lainnya. Jika salah satu unsur tersebut diatas dihilangkan maka tidak terjadi kebakaran.
Teori segitiga api kemudian berkembang menjadi teori tetrahedron dimana kebakaran dapat terjadi jika terdapat unsur keempat yang disebut reaksi berantai. Tanpa adanya reaksi pembakaran maka api tidak akan dapat hidup terus-menerus.
Bentuk Kebakaran
Flash fire
Api jenis ini terjadi jika suatu uap bahan bakar di udara atau disebut vapor cloud tiba-tiba menyala. Api akan menyala sekilas seperti kilat menuju pusat apinya dan biasanya berlangsung dalam waktu singkat. Jenis api ini akan mengeluarkan energi panas yang tinggi yang mencapai 0,1 – 0,3 psi sehingga dapat menghanguskan benda atau orang yang berada. di dekatnya. Kebakaran ini sering terjadi dalam kasus kebocoran gas.
Jika pelepasan gas yang mudah terbakar tidak dinyalakan segera maka kepulan uap akan terbentuk. Hal ini akan melayang dan tersebar oleh angin lingkungan atau ventilasi alami. Jika gas dinyalakan pada saat ini, tetapi tidak meledak, akan menimbulkan kebakaran flash, dimana seluruh vapor cloud membakar dengan sangat cepat. Flash fire tidak sampai mengakibatkan fatality atau kematian namun dapat merusak struktur baja.
Bola Api (Fire Ball)
Biasanya terjadi akibat gas bertekanan dalam suatu wadah yang tiba-tiba bocor akibat pecah. Misalnya tangki LPG yang tiba-tiba bocor, mengakibatkan gas mengembang dengan cepat ke udara dan tiba-tiba terbakar. Salah satu penyebab terjadinya bola api adalah peristiwa BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion).
Bola api dapat memancarkan panas dalam jumlah sangat besar yang dapat menyebabkan kerusakan material, cedera, atau kematian pada area yang lebih besar dari radius api.
Kolam api (Pool Fire)
Kebakaran terjadi jika suatu cairan tumpah dan mengenai suatu tempat atau dalam wadah terbuka seperti tangki timbun. Besarnya api ditentukan oleh jumlah bahan yang terbakar, sifat kimiawi dan fisis bahan, serta kondisi lingkungan misalnya arah angin dan cuaca.
Pool fire memiliki beberapa karakteristik jet fire vertikal, tetapi pemanasan konvektifnya akan jauh lebih sedikit. Sekali kolam cairan dinyalakan, gas menguap dengan cepat dari kolam karena dipanaskan oleh radiasi dan konveksi panas dari nyala api.
Api Jet (Jet Fire)
Kebakaran ini terjadi jika bahan bakar keluar dalam lubang yang kecil dengan tekanan yang tinggi. Kebakaran di industri minyak dan gas biasanya selalu dikaitkan dengan kebakaran jenis jet fire ini. Jet fire merupakan sebuah aliran bertekanan dari gas yang mudah terbakar atau cairan yang teratomisasi (seperti pelepasan tekanan tinggi dari pipa gas atau peristiwa ledakan sumur minyak) yang terbakar. Jika terjadi pelepasan dan kemudian dinyalakan segera setelah itu terjadi, (dalam waktu 2-3 menit), hasilnya adalah api jet intens. Api jet ini stabil ke titik yang dekat dengan sumber pelepasan, sampai pelepasannya berhenti. Jet fire biasanya terjadi sangat lokal, tetapi sangat merusak semua yang ada di dekatnya.

No comments:

Post a Comment